Sejarah Berdirinya Ponpes Sirojul Mukhlasin 2, MTs - MA Yajri

Berlokasi di Desa Payaman Kecamatan Secang Kabupaten Magelang, yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, Yayasan Bakti Yajri,  mendirikan 3 lembaga pendidikan sebagai bentuk pengabdian dan sumbangsih kepada masyarakat. Lembaga pendidikan tersebut ialah MTs Yajri, MA Yajri dan Pondok Pesantren Sirojul Mukhlasin II. Tidak serta merta, pendirian lembaga tersebut tentu melalui sejarah yang panjang bahkan dimulai sejak tahun 60-an.
Lembaga tersebut berdiri sejak tahun 1966/1967 dengan nama “Madrasah Mu'allimin/Mu'allimat 6 Tahun”, yang kemudian berubah menjadi Madrasah Tsanawiyah Yajri (setara SLTP) dan Madrasah  Aliyah Yajri  (setara SLTA) pada tahun 1976 setelah adanya SKB 3 Menteri RI.

Namun dalam perjalanannya, perkembangan madrasah ini kurang menggembirakan karena madrasah dipandang sebagai sekolah nomor 2 setelah sekolah umum ataupun kejuruan. Untuk itu perlu terobosan baru sebagai solusi. Dengan menyelenggarakan pendidikan non formal berupa pesantren di bawah pimpinan dan asuhan KH. Minanurrohman Anshori, yang merupakan pengembangan dari Pondok Pesantren Sirojul Mukhlasin Payaman, akhirnya madrasah tersebut mulai "bangkit".

Nama “Sirojul Mukhlasin II” sampai saat ini masih dipertahankan untuk mengabadikan nama KH. Sirodj sebagai pendiri pondok dan madrasah.

Dewasa ini, Pondok Pessantren Sirojul Mukhasin 2 dipandang sebagai salah satu Pesantren yang tergolong besar di Kabupaten Magelang. Dikatakan besar dilihat dari kuantitas santri saat ini, pesantren ini memiliki lebih dari 1.000 santri. Dengan angka itu pesantren yang sering disebut dengan Pondok Yajri tersebut  termasuk pesantren yg memiliki jumlah santri terbanyak di Kecamatan Secang setelah Pondok Pesantren Sirojul Mukhlasin 1 yang terletak di kecamatan yg sama.

Sebagaimana telah disebutkan di awal, bahwa selain pesantren Yayasan Bakti Yajri juga menaungi dua lembagai pendidikan yang lain, yaitu MTs Yajri dan MA Yajri. Meski demikian pengelolaan program pendidikan, kuriikukum serta administrasi tetap terintegrasi.

Pesantren ini mengkolabrosikan anatra sistim pendidikan formal dan sistem pendidikan salaf / pesantren, hal ini tidak terlepas dari pengalaman dan latar belakang pendidikan  Pengasuh Pesantren, KH. Minannurohman Anshori yang menimba pendidikan formanya di Pondok Modern Gontor selama 6 tahun, kemudian menyempurnakan pendidikanya di Ponpes Salaf Sarang Rembang di bawah asuhan Simbah KH Maemun Zubair langsung. Di Sarang, beliau menimba ilmu dan berkhidmat selama kurang lebih 8 tahun di era tahun 70-80an.

Dalam perjalanannya, perbaikan demi perbaikan terus dilakukan secara bertahap dalam peningkatan dan pengembangan sistem pendidikan dan pembinaan siswa-santri maupun dalam peningkatan kualitas output-nya.  Perubahan dan pembaharuan ini dimaksudkan sebagai kesiapan madrasah dan pesantren dalam menghadapi tantangan dan tuntutan global.

Santri Pondok Pesantren Sirojul Mukhlasin II Gelar Santunan Hari Asyuro’



Dalam rangka menyambut peringatan 10 Muharam 1440 H yang jatuh pada Kamis (20/9/2018), sejumlah santri Pondok Pesntren Sirojul Mukhlasin 2 menggelar kegiatan sosial berupa pemberian santunan kepada siswa siswi TK RA Al Islam Kalijoso. Kegiatan tersebut merupakan inisiatif santri untuk mengamalkan sunnah Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana diketahui bersama, bahwa pada tanggal 10 Muharram umat Islam disunnah melakukan amalan - amalan tertentu, salah satunya memberi santunan.
 
"Kegiatan santunan ini murni inisiatif dari santri, bukan agenda pesantren atau madrasah, kalau yang agenda lembaga sudah ada sendiri dan dikordinir oleh kesiswaan," tutur Ustadz Abdullah Misbakhul Fikri, salah satu ustadz di Ponpes Sirojul Mukhlasin 2 yang membantu mengkordinir kegiatan tersebut.
 
Ustadz yang sering disapa Pak Fikri itu juga mengaku bangga dengan diselenggarakannya kegiatan tersebut. “Saya atas nama pribadi maupun lembaga bangga dengan adanya kegiatan ini. Kegiatan seperti ini menunjukan bahwa para santri memiliki kesadaran yang tinggi terhadap lingkungan dan sosial serta pengamalan terhadap nilai – nilai keagamaan yang telah dipelajarinya di pesantren, dalam ini bersedekah dan mengamalkan sunnah rosul,” imbuhnya.
 
Meski jumlahnya tak seberapa diharapkan santunan yang diberikan santri tersebut dapat memberikan manfaat, khususnya bagi para siswa TK RA Al Islam Kalijoso. Santunan tersebut selanjutnya akan ditasharufkan kepada 13 anak yatim di lingkungan TK/RA yang berlokasi tidak jauh dari Pondok Pesantren Sirojul Mukhlasin 2, yaitu di Desa Kalijoso Kecamatan Secang Kabupaten Magelang.
 
“Terima kasih atas bantuannya semoga menjadi amal yang diterima Allah SWT," ucap salah satu pengajar TK/RA Al Islam Kalijoso setelah secara simbolis menerima santunan dari santri Pondok Pesantren Sirojul Mukhlasin II.

Galakkan Literasi Kitab Salaf : Upaya MTs Yajri Tingkatkan Kualitas Pendidikan


Sebagai madrasah yang sudah diperhitungkan keberadaannya, MTs Yajri terus menjaga dan meningkatkan kualitas pendidikan dengan berbagai upaya. Salah satunya adalah dengan peningkatan literasi siswa.
Tidak tanggung - tanggung, peningkatan literasi siswa MTs Yajri diupayakan dengan kegiatan membaca bahkan menganalisis bahasa dalam kitab kuning (kitab salaf-red). Hal itu dimaksudkan agar selain mendapatkan informasi dari kitab yang dibacanya, siswa juga memahami konteks bahasa serta penerapan ilmu Nahwu dan Shorof.
"Sekarang ini santri harus sadar berliterasi, rajin membaca dan bahkan menulis. Terlebih membaca kitab kuning, kitab salaf karya ulama' kuno. Jangan hanya mbah google saja yang jadi rujukan, apalagi sebagai referensi tentang agama," terang Ust. Irfan Abdul Karim selaku Guru Mata Pelajaran Shorof di MTs Yajri, Jum'at (21/09).
Guru lulusan Pondok Pesantren Lirboyo itu juga menerangkan bahwa siswa harus belajar menerapkan ilmu shorof yang mereka pelajari dari kitab Amtsilatut Tashrifiah pada saat membaca kitab kuning. Penerapan yang dimaksud misalnya dengan mencari shighot, menentukan binak, dan bahkan mentashrif kata demi kata yang mereka jumpai. Dengan demikian siswa akan mampu memperoleh pengetahuan secara lengkap, tidak hanya tekstual bahkan konteksnya pun akan paham.

Shorof memang salah bidang keilmuan pesantren yang dipelajari di MTs Yajri sebagai muatan lokal. Namun karena terbentur dengan kerangka kurikulum dari Kemenag dan Kemdikbud, mata pelajaran shorof  dan beberapa mata pelajaran kepesantrenan lain diajarkan di waktu sore hari. Meski demikian, hal tersebut tidak berarti mengecilartikan mapel kepesantrenan karena MTs Yajri memang lembaga pendidikan dengan sistem boarding shcool.

Secara struktural, MTs Yajri terafiliasi dengan Pondok Pesantren Sirojul Mukhlasin 2 yang berada dalam satu naungan yayasan yang sama, Yayasan Bakti Yajri. Tidak hanya itu, MTs Yajri juga terintegrasi dengan jenjang pendidikan di atasnya yaitu MA Yajri. Bahkan pengasuh pesantren, KH. Minanurrohma  Anshori, menerapkan sistem pembelajaran 6 tahun bagi siswa santri yang masuk di jenjang MTs.

Puluhan Siswa Madrasah Ikuti Praktikum Isolasi DNA Sederhana

Kamis, (20/09) puluhan siswa melaksanakan tugas praktikum di Laboratorium IPA Madrasah Aliyah Yajri Payaman. Praktikum tersebut sebagai bentuk pembelajaran kepada siswa pada mata pelajaran Biologi. Kegiatan yang bertajuk Praktikum Isolasi DNA Sederhana tersebut bertujuan agar para siswa dapat lebih memahami terhadap materi yang disampaikan.
Diampu oleh Ibu Rikhayati Ratih Widati, kegiatan praktikum tersebut memanfaatkan bahan – bahan sederhana yang sering ada di rumah seperti garam dan sabun.
“Bahan yang digunakan adalah bahan – bahan sederhana, sering kita jumpai di rumah seperti garam dan sabun,” terang guru Biologi tersebut ketika ditanya oleh salah satu siswanya.

Kegiatan praktikum dan penerapan materi pelajaran memang sering dilaksanakan di MA Yajri. Selain bertujuan agar siswa lebih memahami materi pembelajaran juga supaya siswa lebih menikmati proses kegiatan belajar mengajar sehingga mampu meningkatkan semangat belajar siswa.
Tidak hanya pada mata pelajaran umum saja, di MA Yajri praktikum juga dilaksanakan pada mata pelajaran agama seperti praktik berwudhu, sholat, sampai mengurus jenazah pada pelajaran Fiqih. Bahkan, praktik membaca dan menghafal kitab salaf menjadi ciri khas dari madrasah yang terafiliasi dengan pondok pesantren tersebut. (AD)